Ketua Bawaslu di Hadapan Mahasiswa: Politik Uang Adalah Racun Demokrasi!
|
BAWASLU – Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI, Rahmat Bagja, memberikan peringatan keras terhadap praktik lancung politik uang yang kerap menghantui pesta demokrasi di Indonesia.
Di hadapan aktivis mahasiswa, Bagja menyebut fenomena "serangan fajar" bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan racun yang mematikan nalar demokrasi.
Hal tersebut ditegaskan Bagja saat menjadi narasumber dalam kegiatan Latihan Kader (LK) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Cianjur, Jawa Barat, Selasa (12/5/2026).
Dalam pemaparanya, Bagja membedah dampak ngeri dari proses pemilu yang transaksional. Menurutnya, ketika seorang pemimpin lahir dari hasil membeli suara, maka orientasi kerjanya saat menjabat akan menyimpang jauh dari kepentingan rakyat.
"Politik uang adalah racun dalam demokrasi kita. Jika pemimpin lahir dari proses transaksional, maka kebijakan yang dihasilkan ke depan berpotensi besar hanya untuk mengembalikan modal kampanye, bukan untuk kesejahteraan rakyat," tegas Bagja di hadapan para peserta, dikutip dari laman Bawaslu RI.
Ia menambahkan bahwa praktik ini secara langsung merendahkan martabat pemilih, seolah-olah hak kedaulatan warga negara bisa ditukar dengan materi sesaat.
Tak main-main, Bagja juga mengingatkan para pasangan calon (paslon) dan tim sukses untuk tidak bermain api. Ia menekankan bahwa Bawaslu memiliki taring hukum yang kuat untuk menindak pelaku politik uang.
Sanksi yang mengintai mulai dari hukuman pidana penjara hingga hukuman terberat dalam pemilu, yakni diskualifikasi. Terutama, jika praktik tersebut terbukti dilakukan secara Terstruktur, Sistematis, dan Masif (TSM).
Tantangan untuk Mahasiswa: Jangan Cuma Jadi Penonton!
Menutup paparannya, Bagja menantang seluruh elemen mahasiswa untuk mengambil peran sebagai "mata dan telinga" Bawaslu di lapangan melalui pengawasan partisipatif.
Ia berharap mahasiswa tidak hanya menjadi pemilih yang cerdas di bilik suara, tetapi juga memiliki keberanian untuk melaporkan setiap kecurangan yang mereka temui.
“Mahasiswa harus tetap menjaga independensi dan idealisme sebagai kontrol sosial. Keterlibatan aktif pemuda adalah kunci dalam menjaga kesucian suara rakyat,” pungkasnya. ***