Lolly Suhenty: Belajar Demokrasi Tidak Dimulai di TPS, tetapi Sejak di Ruang Kelas
|
L
Bawaslu, Purwakarta – Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI, Lolly Suhenty, S.Sos.I., M.H., menegaskan bahwa pendidikan politik dan demokrasi bagi generasi muda harus ditanamkan sejak dini melalui bangku sekolah. Menurutnya, pemahaman akan nilai-nilai demokrasi tidak boleh instan atau hanya diingat saat momen pemungutan suara saja.
"Belajar demokrasi tidak dimulai saat di TPS (Tempat Pemungutan Suara), tetapi sejak di ruang kelas," ujar Lolly melalui pernyataan di akun Instagram resminya (@lollysaja).
Pernyataan tersebut disampaikan Lolly di sela-sela kegiatannya berdiskusi langsung dengan siswa-siswi SMA dan SMK di Bogor dalam program "Bawaslu Mengajar". Acara ini merupakan bentuk kolaborasi strategis lintas sektor dan internasional yang melibatkan Bawaslu Kabupaten Bogor, Universitas Padjadjaran (UNPAD), serta Universitas Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.
Pentingnya Berpikir Kritis
Dalam unggahan tersebut, Lolly mengajak para pemilih pemula untuk melihat demokrasi dengan cara yang lebih mendalam. Ia bahkan mengibaratkan proses memahami demokrasi layaknya mempelajari ilmu pasti.
"Demokrasi harus dipelajari seperti belajar Matematika: memahami proses, berpikir kritis, dan tidak asal mengambil keputusan," jelasnya menekankan pentingnya nalar kritis bagi pelajar.
Melalui interaksi tatap muka di dalam kelas tersebut, Bawaslu berharap sekolah dapat menjadi tempat utama dalam menyemai tiga nilai penting bagi masa depan bangsa, yakni kejujuran, kepedulian, dan keberanian menjaga demokrasi.
"Salam Awas!"