Bawaslu Purwakarta Tanamkan Literasi Demokrasi Sejak Dini di SMPN 3 Purwakarta
|
Purwakarta, Bawaslu - Penguatan pemahaman demokrasi bagi generasi muda terus menjadi perhatian Bawaslu Kabupaten Purwakarta dalam kegiatan Kelas Inspiratif di SMPN 3 Purwakarta, Rabu 11 Februari 2025
Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa (HPS), Bawaslu Kabupaten Purwakarta, Siti Nurhayati, hadir dalam kegiatan tersebut memberikan edukasi tentang demokrasi, sistem kepemiluan, serta peran strategis pemilih muda dalam menjaga kualitas demokrasi bangsa.
Mengawali sesi pembelajaran, Siti Nurhayati terlebih dahulu melakukan pre-test interaktif untuk mengukur sejauh mana pengetahuan siswa mengenai demokrasi. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian siswa telah memahami konsep dasar demokrasi sebagai sistem pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat, namun masih terdapat siswa yang belum mengenal secara mendalam lembaga-lembaga penyelenggara pemilu, khususnya Bawaslu.
Dalam pemaparannya yang bertajuk “Pemilih Muda Pilar Demokrasi Bangsa”, Siti Nurhayati menjelaskan dasar hukum pemilu di Indonesia, mulai dari UUD 1945, UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, hingga UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada, serta berbagai peraturan teknis yang menjadi pedoman penyelenggaraan pemilu.
Ia juga memperkenalkan tiga lembaga utama penyelenggara pemilu, yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai pelaksana teknis, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) sebagai pengawas seluruh tahapan pemilu, serta Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) yang menangani pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu.
Secara khusus, Siti menekankan pentingnya peran Bawaslu dalam memastikan pemilu berjalan berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Ia menjelaskan bahwa pengawasan bukan sekadar tugas lembaga, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat, termasuk pelajar sebagai calon pemilih pemula.
Menurut beliau, generasi muda memiliki posisi krusial dalam menjaga dan meningkatkan kualitas demokrasi Indonesia.
“Pemilih muda bukan sekadar pengguna hak suara, melainkan agen perubahan yang membawa harapan baru bagi kualitas demokrasi Indonesia. Jangan ragu untuk bersuara, karena dari tangan generasi muda, masa depan demokrasi bangsa ini dimulai,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengutip sebuah pernyataan reflektif tentang makna pendidikan:
“Learning is the process of acquiring new understanding, knowledge, behaviors, skills, values, attitudes, and preferences.”
Ia menjelaskan bahwa pembelajaran tidak hanya sebatas menerima informasi, tetapi merupakan proses membangun pemahaman baru, membentuk karakter, menumbuhkan nilai, serta mengasah sikap dan tanggung jawab. Dalam konteks demokrasi, belajar berarti memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara, melatih sikap kritis, serta membangun integritas dan kepedulian sosial. Dengan demikian, pendidikan demokrasi di sekolah bukan hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian dan kesadaran kebangsaan.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pendidikan memegang peranan sentral dalam membangun kesadaran kritis, karakter, dan tanggung jawab kebangsaan. Nilai tersebut, menurutnya, sejalan dengan pemikiran para tokoh pendidikan dunia.
R.A. Kartini pernah menyampaikan bahwa perempuan berpendidikan bukan hanya membangun dirinya, tetapi juga membangun peradaban.
Tan Malaka menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan.
Ki Hajar Dewantara memandang pendidikan sebagai kunci dalam membangun karakter dan menciptakan generasi yang cerdas serta berkualitas.
Sementara Albert Einstein menyebut pendidikan sebagai proses membuka pikiran dan mengubah kegelapan menjadi cahaya.
Malala Yousafzai pun mengingatkan bahwa satu anak, satu guru, satu buku, dan satu pena dapat mengubah dunia.
Melalui kegiatan ini, Bawaslu Kabupaten Purwakarta berharap literasi demokrasi dapat tumbuh sejak bangku sekolah, sehingga para pelajar tidak hanya memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk menjaga integritas demokrasi di masa depan.
Kegiatan berlangsung dengan suasana dialogis dan penuh antusiasme, menandakan bahwa pendidikan demokrasi di kalangan pelajar menjadi investasi penting dalam membangun peradaban bangsa. ***
Penulis dan Foto : Muti
Editor: Ikbal Safana